Anak Muda Sumsel Belajar Cegah Karhutla Sebelum Api Membesar
PALEMBANG - Sejumlah anak muda di Sumatera Selatan belajar langsung mengenai ekosistem gambut, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, serta cara mengubah kepedulian lingkungan menjadi kegiatan nyata melalui Forest Youthverse Resilience Summit Sumatera Selatan 2026.
Kegiatan berlangsung di Palembang dan menjadi bagian dari program bertema “Peatland & Fire Resilience: Membangun Ketangguhan Ekosistem Gambut dan Generasi Muda untuk Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan”. Sesi Youth Talk digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Peserta sebelumnya juga melihat langsung Training Center Daops Manggala Agni untuk mengenal peralatan serta cara pencegahan dan penanganan kebakaran dilakukan di lapangan.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan Luckmi Purwandari mengatakan program tersebut dirancang agar anak muda tidak berhenti pada pengetahuan mengenai masalah lingkungan, tetapi mampu mengembangkan gagasan dan tindakan.
Empat anak muda menjadi pembicara dalam Youth Talk, yakni Aurellia Chaila Amanta, Sella Islamiah, Indah Suci M., dan M. Zaid Pramandhana.
Pengalaman yang dibagikan cukup beragam.
Aurellia mengembangkan budidaya cabai sebagai bentuk kewirausahaan. Sella belajar dari pengembangan hutan bambu menjadi ekowisata. Indah menceritakan pengalaman melakukan analisis vegetasi dan mengenal biodiversitas di kawasan Gunung Dempo.
Zaid, anggota Saka Wanabakti, mengikuti pelatihan bersama Manggala Agni dan belajar menggunakan peralatan serta memahami teknik dasar menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Rangkaian tersebut menunjukkan pencegahan karhutla tidak hanya menjadi pekerjaan petugas pemadam.
Kebiasaan masyarakat memperlakukan lahan, pengetahuan mengenai risiko penggunaan api, kesiapsiagaan dan keterlibatan komunitas juga menentukan seberapa cepat suatu kebakaran dapat dicegah atau ditangani.
Bagi generasi muda, gaya hidup yang peduli lingkungan dapat dimulai dari hal yang dekat, seperti memahami sumber persoalan, mengikuti kegiatan lapangan, mengembangkan usaha yang memperhatikan kelestarian alam hingga menyebarkan informasi yang benar.
Kegiatan di Sumatera Selatan juga menunjukkan bahwa pendidikan karhutla tidak harus menunggu api muncul.
Pencegahan justru dimulai sebelum asap terlihat.
SUMBER REDAKSI: Kementerian Kehutanan, 29 Agustus 2026.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi