Hotspot Nasional Tembus 20.378, Kalbar dan Kalteng Naik Tajam
Editor: Agung SP
JAKARTA. GARIS BUMI - Jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Indonesia mencapai 20.378 titik pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Jumlah itu meningkat dari 18.092 titik sehari sebelumnya, dengan kenaikan paling tajam terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Data Kementerian Kehutanan yang dihimpun melalui sistem SiPongi menunjukkan hotspot di Kalimantan Barat melonjak dari 3.384 menjadi 6.526 titik. Sementara di Kalimantan Tengah bertambah dari 7.703 menjadi 8.488 titik. Data tersebut menggunakan pengamatan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga pukul 23.59 WIB.
Kondisi berbeda terjadi di empat provinsi prioritas lainnya. Hotspot di Kalimantan Selatan turun dari 1.354 menjadi 867 titik, Sumatera Selatan dari 1.036 menjadi 808 titik, Riau dari 265 menjadi 254 titik, serta Jambi dari 181 menjadi 159 titik.
Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot tidak sama dengan jumlah kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Satu kejadian kebakaran bisa menghasilkan beberapa hotspot sehingga setiap titik tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
Hingga 29 Agustus pukul 09.00 WIB, tim mencatat 112 laporan kejadian karhutla dan pemeriksaan firespot di 11 provinsi. Sebanyak 47 kejadian telah dinyatakan padam, sementara 65 lainnya masih ditangani.
Penanganan dilakukan Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, serta dunia usaha. Operasi meliputi patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, pendinginan, hingga pemantauan lokasi yang berpotensi terbakar kembali. Dukungan water bombing dan operasi modifikasi cuaca juga disiapkan jika kondisi meteorologi memungkinkan.
Sepanjang 2026, Kementerian Kehutanan mencatat 4.682 operasi penanganan karhutla dengan total area penanganan mencapai 38.277,43 hektare.
Dampak asap mulai terlihat pada kualitas udara dan jarak pandang. Sejumlah titik pemantauan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mencapai kategori berbahaya. Di Kalimantan Selatan, kondisi tertinggi tercatat sangat tidak sehat, sedangkan sejumlah titik di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan berada pada kategori tidak sehat.
BMKG mencatat jarak pandang di Pontianak dan Jambi pada pagi 29 Agustus hanya sekitar 800 meter. Di Banjarmasin bahkan sekitar 500 meter. Palangka Raya tercatat tiga kilometer dengan kondisi berasap.
Kementerian Kehutanan meminta masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api.
SUMBER: Kementerian Kehutanan, 30 Agustus 2026.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi